Kedatangan Santri Baru dan Khutbah Ta'aruf Tahun Ajaran 2025/2026

Artikel ini mengulas suasana kedatangan santri baru di Ma’had Tahfizhul Qur’an Darussajidin tahun ajaran 2025/2026, lengkap dengan prosesi khutbah ta’aruf, penyampaian visi dan program, penampilan santri, hingga refleksi makna kegiatan tersebut bagi santri, orang tua, serta para asatidz.

KEGIATAN SANTRI

by Admin

8/25/20254 min read

Hari Ahad, 13 Juli 2025, halaman Ma’had Tahfizhul Qur’an Darussajidin di Gedong, Karanganyar, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, para orang tua dan wali santri mulai berdatangan, mendampingi anak-anak mereka yang akan memulai perjalanan baru sebagai penuntut ilmu di pesantren. Suasana penuh haru dan gembira bercampur menjadi satu. Ada wajah-wajah sumringah karena anaknya diterima di lembaga yang mereka yakini akan membimbing menuju cita-cita Qur’ani. Ada pula wajah penuh keteguhan, menyimpan doa-doa dalam hati agar anaknya betah, kuat, dan sungguh-sungguh dalam menapaki jalan ilmu.

Bagi MTQ Darussajidin, momentum kedatangan santri baru dan pelaksanaan khutbah ta’aruf setiap awal tahun ajaran bukanlah sekadar agenda rutin. Lebih dari itu, acara ini menjadi pintu gerbang, tempat pertama santri baru menginjakkan kaki, mengenal lingkungan, menyerap nilai, dan merasakan atmosfer yang akan membentuk kehidupan mereka selama bertahun-tahun ke depan. Maka tak heran jika panitia mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh perhatian, agar setiap detail benar-benar memberikan kesan mendalam.

Sambutan Awal dengan Kehangatan

Pukul 09.00 WIB, para santri baru tiba satu per satu di area pesantren. Mereka disambut oleh petugas khusus, yakni santri-santri senior yang ditunjuk untuk membantu. Dengan penuh keramahan, para petugas ini menyapa adik-adik baru, lalu dengan sigap membawakan barang-barang mereka menuju kamar yang sudah disiapkan. Pemandangan ini tidak hanya sekadar memudahkan proses masuk asrama, tetapi juga menyampaikan pesan tersirat, bahwa hidup di pesantren adalah tentang kebersamaan, saling membantu, dan menguatkan satu sama lain.

Bagi para orang tua, suasana ini membawa rasa lega. Mereka melihat langsung bagaimana anak-anak mereka diperlakukan dengan penuh kasih sayang, bukan sekadar sebagai siswa, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Darussajidin. Bagi santri baru, sambutan hangat ini menjadi penawar rasa canggung sekaligus dorongan semangat untuk segera beradaptasi dengan lingkungan baru.

Khutbah Ta’aruf sebagai Gerbang Perkenalan

Setelah seluruh santri baru menempati kamar masing-masing, rangkaian acara khutbah ta’aruf pun dimulai. Acara ini menjadi ajang resmi perkenalan antara pihak pesantren dengan santri baru beserta orang tuanya.

Acara dibuka dengan tilawah Al-Qur’an yang dibacakan oleh Fadhilah Ismadi, santri kelas 11 yang sudah menghafal lebih dari 15 juz. Suara merdu dan tartil yang mengalun dari bibirnya menghadirkan suasana khidmat. Tilawah ini bukan sekadar pembukaan formal, tetapi juga simbol bahwa Al-Qur’an adalah pusat kehidupan di Darussajidin, sekaligus pengingat bagi para santri baru tentang tujuan utama mereka berada di sini.

Setelah tilawah, doa pembuka dipimpin oleh Ustadz Fahmi, pengajar Adab dan Akhlak sekaligus alumni Ponpes Darul Musthafa, Karangpandan. Suaranya lembut namun penuh wibawa, menggetarkan hati yang hadir. Doa itu bukan hanya permohonan agar acara berjalan lancar, melainkan juga harapan agar seluruh santri diberi kekuatan, keikhlasan, dan istiqamah dalam menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu.

Paparan Visi dan Program Kerja

Bagian utama khutbah ta’aruf adalah penyampaian visi dan program kerja oleh tiap divisi di pesantren yaitu Divisi Pengajaran, Kesantrian, dan Ketahfizhan.

Dari divisi Pengajaran, dipaparkan bagaimana kurikulum di Darussajidin dirancang terpadu, menggabungkan tahfizh 30 juz, pembelajaran diniyah, penguasaan bahasa Arab, serta pendidikan formal setara SMP dan SMA. Harapannya, santri tidak hanya mutqin dalam hafalan, tetapi juga memiliki ijazah resmi sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dari divisi Kesantrian, dijelaskan pola pembinaan keseharian santri. Mulai dari adab, disiplin, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter. Santri dibimbing agar tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlakul karimah, mampu menjaga kebersihan, kerapian, serta membiasakan ibadah harian secara teratur.

Sementara divisi Ketahfizhan menekankan strategi dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, termasuk metode muroja’ah, ujian setoran hafalan, hingga program intensif menjelang khataman. Divisi ini juga menjelaskan target besar Darussajidin yaitu mencetak santri hafizh 30 juz yang tidak hanya sekadar hafal, tetapi juga paham dan siap mengamalkan isi Al-Qur’an.

Sejarah Singkat Darussajidin

Rangkaian sesi visi dan program kerja kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sejarah singkat MTQ Darussajidin oleh Ustadz Tri Hartono SH. MM. selaku Mudir. Beliau menceritakan bagaimana lembaga ini lahir dengan semangat sederhana, namun berkomitmen besar untuk membumikan Al-Qur’an dengan ilmu dan amal. Dari tahun ke tahun, Darussajidin terus berkembang, membuktikan diri sebagai lembaga yang mampu mencetak generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlakul karimah.

Sejarah ini bukan sekadar kilas balik, tetapi juga motivasi bagi santri baru. Mereka diingatkan bahwa mereka adalah bagian dari perjalanan besar yang telah dimulai oleh para pendahulu, dan kini mereka harus melanjutkan tongkat estafet tersebut.

Hiburan Islami di Tengah Acara

Agar suasana tidak kaku, khutbah ta’aruf juga diselingi oleh penampilan santri. Beberapa santri menampilkan percakapan dalam bahasa Arab, yang menunjukkan hasil pembelajaran mereka. Penampilan ini membuat santri baru terinspirasi sekaligus termotivasi untuk serius belajar bahasa Arab, bahasa utama dalam memahami Al-Qur’an dan khazanah ilmu Islam.

Selain itu, ada juga atraksi Tapak Suci, seni bela diri khas Muhammadiyah yang dikembangkan di Darussajidin sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Atraksi ini bukan hanya hiburan, tetapi juga menunjukkan pentingnya kekuatan fisik, kedisiplinan, dan keberanian sebagai bagian dari pembentukan karakter santri.

Penutup dengan Kebersamaan

Khutbah ta’aruf ditutup dengan acara makan bersama. Seluruh tamu undangan, santri baru, asatidz, dan santri lama duduk dalam satu majelis, menyantap hidangan yang telah disiapkan panitia. Suasana keakraban begitu terasa. Tidak ada sekat antara guru, santri lama, santri baru, dan orang tua. Semua larut dalam kebersamaan, seolah menjadi satu keluarga besar.

Acara penutup ini menjadi simbol bahwa di Darussajidin, kebersamaan dan ukhuwah adalah hal yang utama. Para orang tua pun merasa lebih tenang, karena melihat anak-anak mereka tidak hanya akan belajar Al-Qur’an, tetapi juga hidup dalam lingkungan yang penuh perhatian, disiplin, dan persaudaraan.

Langkah Awal Menuju Masa Depan

Kedatangan santri baru dan khutbah ta’aruf bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Para santri baru kini memasuki fase kehidupan yang penuh tantangan, tetapi juga penuh peluang. Di Darussajidin, mereka akan ditempa untuk menjadi hafizh Al-Qur’an 30 juz, berakhlakul karimah, menguasai ilmu-ilmu agama, dan memiliki bekal akademik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan hingga menembus LIPIA Jakarta.

Bagi orang tua, acara ini adalah momen menyerahkan amanah besar kepada lembaga. Mereka menitipkan anak-anaknya untuk dididik bukan hanya menjadi cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang beriman, berilmu, dan siap mengabdi kepada agama dan masyarakat.

Bagi Darussajidin, acara ini adalah pengingat bahwa amanah mendidik generasi Qur’ani adalah tugas besar yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati.