Langkah-Langkah Setan
Artikel ini membahas strategi halus setan dalam menyesatkan manusia, mulai dari bisikan kecil, lupa, angan-angan, hingga rasa takut yang membungkam iman. Dijelaskan pula bagaimana dosa dihias agar tampak indah (tazyin), hati ditenangkan dalam kesalahan (taswil), emosi diprovokasi (nazgh), dan tubuh diganggu (mass). Semua ini membentuk rantai jebakan yang berujung pada kehancuran jiwa. Tulisan ini ditutup dengan himbauan bagi santri, orang tua, dan jamaah agar lebih waspada, menjaga hati, dan memperkuat kesadaran dengan zikir dan muhasabah setiap hari.
ARTIKEL KEPENDIDIKAN
Furqon Faiz
9/2/20254 min read


Langkah-langkah Setan
Dari Bisikan Halus hingga Tipu Daya yang Membinasakan
Pendahuluan
Setan tidak menjerumuskan manusia dengan satu langkah besar. Ia tidak datang dengan wajah menakutkan, tapi dengan bisikan lembut yang tampak seperti suara hati. Ia tidak langsung menggiring orang kepada zina, korupsi, atau pembunuhan, tapi membiarkan manusia berjalan setapak demi setapak dalam kelalaian. Al-Qur’an sudah memperingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…” (QS. An-Nur: 21)
Ayat ini tidak menyebut perintah setan, tapi “langkah-langkah”—khuthuwat. Artinya ada proses bertahap, ada alur halus yang membuat dosa besar lahir dari kelonggaran-kelonggaran kecil.
Tulisan ini mencoba merangkum beberapa cara kerja setan sebagaimana tergambar dalam Al-Qur’an, hadits, serta pengalaman nyata dalam kehidupan manusia. Dari lupa, angan-angan, tazyin, taswil, nazgh, mass, hingga rasa takut yang membungkam. Semuanya saling terhubung sehingga membentuk jebakan yang sulit dilepaskan kecuali dengan kesadaran dan iman.
Dari Bisikan ke Kehancuran
Sejarah panjang manusia penuh dengan contoh bagaimana setan bekerja. Kisah rahib Bani Israil yang terjatuh ke dalam zina, pembunuhan, lalu sujud kepada setan, hanyalah satu di antaranya. Ia tidak jatuh dalam semalam. Ia dimulai dari hal kecil, mulai dari mengantar makanan, berbicara singkat, lalu membuka celah yang makin membesar.
Begitu pula kisah nyata yang viral, Ipar Adalah Maut. Hubungan yang awalnya sekadar bercanda, saling menolong, lalu berubah menjadi perselingkuhan yang merobohkan rumah tangga. Dosa besar selalu tumbuh dari langkah kecil yang dibiarkan.
Setan menempuh tiga tahap infiltrasi:
Waswasah – bisikan awal, lintasan kecil yang tampak sepele.
Iiha’ – pembenaran logis yang menenangkan.
Qaul dan Kitabah – gagasan yang akhirnya jadi tindakan, ucapan, bahkan budaya.
Dari sinilah kita belajar bahwa setiap bisikan kecil bisa menjadi awal dari sebuah kehancuran besar.
Lupa dan Angan-angan
Tidak semua orang bisa digoda dengan maksiat terang-terangan. Tapi semua bisa dibuat lupa. Lupa dzikir, lupa tujuan hidup, lupa pada Allah. Lupa ini pelan-pelan berubah menjadi ghaflah, sebuah kelalaian yang mematikan hati.
Setelah lupa, setan masuk dengan angan-angan. Ia membisikkan penundaan, “Tenang, nanti saja taubatnya. Kamu masih muda. Waktu masih panjang.” Inilah imla’, yaitu hidup dalam harapan kosong.
Berapa banyak orang ingin berubah tapi tak pernah mulai? Berapa banyak yang ingin dekat dengan Al-Qur’an tapi menunggu waktu luang yang tak kunjung ada? Inilah jebakan angan-angan. Sampai maut tiba, semua niat itu hilang tanpa bekas.
Saat Dosa Terasa Indah
Kalau lupa dan angan-angan membuat orang lalai, tazyin dan taswil membuat dosa terasa wajar, bahkan indah.
Tazyin bekerja pada persepsi, membuat yang haram tampak menarik. Zina disebut cinta, riba disebut investasi, dusta disebut diplomasi.
Taswil bekerja pada rasa, membuat hati merasa tenang meskipun salah. Orang berkata, “Aku hanya manusia biasa. Niatku baik.”
Setan memperkuat dua hal ini dengan tiga perangkat yaitu kebohongan, sumpah palsu, dan janji kosong. Ia membalik logika, meyakinkan dengan bahasa religius, lalu menanamkan fatamorgana kebahagiaan.
Dari kisah rahib Bani Israil hingga cerita modern seperti perselingkuhan, polanya sama. Semua tampak wajar di awal, lalu tenang dalam kesalahan, hingga hancur di ujungnya.
Saat Emosi dan Tubuh Tak Lagi Milik Kita
Gangguan setan bukan hanya di akal dan hati. Ia juga menyentuh emosi dan tubuh.
Nazgh berarti tusukan. Ia memicu emosi, menyalakan pertengkaran kecil menjadi besar. Dari bisikan halus (hamz), menjadi kemarahan terbuka (nazgh), hingga dominasi penuh (‘azz). Banyak konflik rumah tangga dan perpecahan umat lahir dari nazgh yang dibiarkan.
Mass berarti sentuhan. Ia mengganggu tubuh dan jiwa dalam bentuk kecemasan, depresi, kesurupan, dan bahkan penyakit fisik. Al-Qur’an menyebut orang yang makan riba akan dibangkitkan seperti orang kerasukan. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Setan mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah.”
Di era media sosial, nazgh dan mass makin nyata. Satu komentar bisa memicu amarah. Satu unggahan bisa menghancurkan hubungan. Sementara banyak yang mencari ketenangan lewat jalan yang salah seperti pergi ke dukun, meditasi kosong, atau “spiritual healing” tanpa arah. Padahal kuncinya adalah isti’adzah, yaitu berlindung pada Allah dengan dzikir, shalat, dan menjaga hati tetap waspada.
Takut Mati dan Miskin
Jika lupa, angan-angan, tazyin, dan nazgh belum berhasil, setan masih punya senjata lain, yaitu rasa takut.
Allah sudah menyingkap rahasia ini. Allah berfirman,
“Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Takut miskin membuat orang pelit. Takut mati membuat orang berhenti berjuang. Takut kehilangan jabatan membuat orang bungkam terhadap kebenaran. Semua itu tampak seperti kehati-hatian, padahal hanyalah jerat.
Padahal Allah sudah menjamin rezeki dan ajal. Kita tidak akan mati sebelum waktunya, dan tidak akan miskin karena taat. Keberanian sejati adalah tetap melangkah meski gemetar.
Siklus Lengkap Tipu Daya Setan
Kalau kita rangkai semua yang sudah dibahas, akan terlihat jelas pola lengkapnya:
Waswas – bisikan awal.
Lupa – kelalaian dari dzikir dan tujuan hidup.
Angan-angan – penundaan amal.
Tazyin – menghias dosa agar tampak indah.
Taswil – menenangkan hati dalam kesalahan.
Nazgh – memicu emosi hingga konflik.
Mass – mengganggu tubuh dan jiwa.
Takut – membungkam langkah iman.
Semua ini bukan strategi terpisah, melainkan sebuah rantai. Jika satu terlewati, ada pintu lain yang dibuka. Ujungnya adalah kudeta total terhadap jiwa manusia.
Sebuah Himbauan
Kepada para santri di manapun kalian berada, hati-hati dengan tontonan, candaan, dan tren digital. Apa yang terlihat sebagai hiburan bisa menyimpan waswasah. Apa yang terdengar sekadar gaya bicara bisa menjadi taswil. Jaga mata, jaga telinga, dan jangan biarkan hatimu terbiasa dengan dosa yang dibungkus indah.
Kepada para orang tua, jangan hanya melarang. Duduklah bersama anak-anakmu, dengarkan cerita mereka, dan bimbing dengan kasih sayang. Anak-anak butuh diajak mengenali pola kerja setan sejak dini, agar mereka kuat bukan hanya dari maksiat besar, tapi juga dari jebakan kecil yang samar.
Kepada masyarakat secara umum, waspadalah terhadap opini, narasi populer, atau motivasi kosong yang terdengar indah. Setan bisa menyelinap dalam candaan, logika, bahkan janji manis. Perbanyak muhasabah setiap hari, jangan menunggu waktu tertentu. Karena hati yang terbiasa jernih akan lebih sulit ditipu.
Menutup Pintu, Menjaga Hati
Setan tidak terburu-buru. Ia hanya butuh satu langkah kecil untuk membuka pintu. Dari situ, ia akan menuntun dengan halus hingga manusia terperosok.
Kuncinya ada pada kesadaran. Jangan remehkan lintasan pikiran. Jangan biarkan angan-angan menunda taubat. Jangan terbuai oleh kenyamanan dosa. Jangan berhenti melangkah karena takut.
Semoga Allah menjaga hati kita dari bisikan halus, meneguhkan langkah dalam kebenaran, dan melindungi keluarga kita dari tipuan yang samar.
“Setan menjanjikan mereka dan membuat mereka berangan-angan, padahal janji setan hanyalah tipuan belaka.” (QS. An-Nisa: 120)
