Pendakian Santri SMA MTQ Darussajidin ke Gunung Lawu
Pendakian santri SMA MTQ Darussajidin ke Gunung Lawu menjadi pengalaman berharga yang penuh makna. Dengan semangat kebersamaan, mereka menapaki jalur Cemoro Sewu hingga puncak Hargo Dalem. Setiap pos menyimpan cerita, dari shalat Subuh di alam terbuka, tadabbur alam di tengah kabut, hingga rasa haru saat menggapai puncak. Warna-warni kisah santri menambah kehangatan perjalanan ini, ada canda, rasa cemas, hingga syukur yang mendalam. Lebih dari sekadar pendakian, kegiatan ini menjadi madrasah kehidupan tentang sabar, kerja sama, dan rasa syukur atas ciptaan Allah.
KEGIATAN SANTRI
by Admin
8/25/20253 min read


Pagi itu halaman MTQ Darussajidin dipenuhi semangat santri SMA yang bersiap menuju pengalaman baru. Sebuah bus pondok sudah terparkir, siap mengantarkan rombongan menuju Gunung Lawu. Sebanyak 11 santri SMA dan 4 ustadz pembimbing ikut serta. Setelah doa bersama, bus berangkat meninggalkan pondok dengan suasana ceria bercampur rasa penasaran.
Tiba di Cemoro Sewu
Sesampainya di basecamp Cemoro Sewu, rombongan melakukan pengecekan barang bawaan, pengarahan dari ustadz, lalu doa sebelum mendaki. Santri berbaris rapi, siap melangkah di jalur pendakian Lawu via Cemoro Sewu.
Timeline Pendakian
Sekitar pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di basecamp Cemoro Sewu. Di sana para santri memeriksa perlengkapan, berdoa bersama, dan melakukan pemanasan ringan. Setelah semua siap, tepat pukul 02.00 dini hari pendakian dimulai. Langkah pertama terasa penuh semangat. Ustadz terus mengingatkan agar tetap bersama, tidak saling mendahului, dan menjaga stamina.
Setengah jam kemudian, rombongan sampai di Pos 1. Jalur masih cukup landai sehingga perjalanan terasa ringan. Namun memasuki Pos 2 sekitar pukul 03.15, jalur mulai menanjak. Beberapa santri mengisi perjalanan dengan bercerita, menikmati suasana malam, dan merasakan dinginnya udara pegunungan.
Pukul 04.00, rombongan tiba di Pos 3. Udara terasa semakin sejuk. Di sini, santri saling berbagi cerita, ada yang mengungkapkan rasa lelah, namun semangat untuk terus melangkah tetap terjaga.
Memasuki Pos 4 sekitar pukul 05.00, jalur makin curam. Rombongan berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah di alam terbuka. Setelah itu, mereka sarapan dengan bekal roti dan teh hangat yang sedikit mengusir dingin.
Sekitar pukul 06.30 rombongan sampai di Pos 5. Kabut mulai turun dan udara semakin dingin. Momen ini diisi dengan tadabbur alam. Para santri mengamati pepohonan, kabut, dan keindahan ciptaan Allah yang membentang di hadapan mereka.
Pukul 08.00 pendakian menuju puncak dimulai. Inilah bagian paling berat, namun para santri saling menyemangati. Langkah demi langkah membawa mereka semakin dekat ke tujuan.
Alhamdulillah, pukul 09.00 rombongan tiba di Puncak Hargo Dalem yang berada di ketinggian 3.265 mdpl. Rasa syukur dan bahagia terpancar dari wajah mereka. Rombongan berfoto bersama sambil menikmati suasana puncak yang megah.
Sekitar pukul 10.30, perjalanan turun dimulai. Jalannya memang lebih cepat, namun tetap harus berhati-hati. Sesekali rombongan beristirahat di pos-pos yang dilewati. Pada pukul 12.30, mereka berhenti di Pos 3 untuk makan siang sederhana bersama.
Akhirnya, pukul 15.00 rombongan kembali tiba di basecamp Cemoro Sewu dengan selamat. Perjalanan ditutup dengan doa syukur sebelum mereka bersiap naik bus pulang ke pondok.
Warna-warni Pengalaman Santri
Setiap santri membawa kisahnya sendiri dari pendakian ini. Faros bercerita bagaimana awalnya acara tersebut direncanakan sebagai kegiatan akhir semester. Setelah melalui musyawarah bersama ustadz, akhirnya diputuskan santri SMA mendaki Gunung Lawu, sementara santri SMP menuju Bukit Mongkrang.
Azzam menulis dengan gaya santai berbahasa Jawa. Ia menceritakan perjalanan sejak menunggu bus, mendirikan tenda, hingga pengalaman lucu saat kedinginan karena lupa membawa jaket.
Bagi Dedi, hal yang paling berkesan adalah jalur Cemoro Sewu yang dipenuhi batu dari bawah hingga puncak. Ia menyebut jalur ini “amazing”, kagum dengan tatanan batu-batuan yang mengiringi langkah mereka.
Syaiful Karim menyimpan cerita penuh rasa cemas. Ia sempat hampir tersesat karena berjalan sendirian di jalur gelap sebelum akhirnya bertemu kembali dengan rombongan.
Lain lagi dengan Rasha yang mengisahkan suasana malam sebelum pendakian. Waktu itu mereka mengisi malam dengan membakar sate dan bernyanyi bersama, lalu melanjutkan perjalanan keesokan dini hari. Namun, pada akhirnya hanya ia dan seorang temannya yang berhasil berjuang sampai puncak.
Bangkit menulis dengan bahasa Banyumasan. Ceritanya penuh keceriaan, dari perjalanan naik bus, shalat bersama, mendirikan tenda, hingga momen hangat menikmati api unggun di malam hari.
Sementara itu, Raihan mengisahkan kebersamaan di Sendang Derajat sebelum melanjutkan perjalanan terakhir menuju puncak. Ia menggambarkan rasa lega yang luar biasa saat akhirnya sampai di puncak Lawu tepat pukul 11.00 siang, disambut canda tawa dan kebahagiaan bersama teman-temannya.
Penutup
Pendakian ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju puncak, tetapi juga pengalaman spiritual dan kebersamaan. Santri belajar arti kerja sama, kesabaran, serta rasa syukur atas nikmat Allah di setiap langkah. Semoga pengalaman ini menambah semangat para santri untuk terus berjuang, baik di medan dakwah maupun dalam menuntut ilmu.
