MTQ Darussajidin, Pesantren Ramah Anak yang Tumbuh dari Gotong Royong Warga

MTQ Darussajidin Karanganyar adalah pesantren ramah anak hasil gotong royong warga. Lingkungannya aman, tanpa diskriminasi, dan mendukung tumbuh kembang santri.

ARTIKEL KEPENDIDIKAN

by Furqon Faiz

9/8/20252 min baca

Di Ma’had Tahfizhul Qur’an (MTQ) Darussajidin, suasana pendidikan tidak hanya dipenuhi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kehangatan, kebersamaan, dan kasih sayang juga menjadi warna keseharian santri. Dari interaksi sehari-hari yang penuh keterbukaan ini, lahirlah suasana yang membuat pesantren ini terasa sebagai rumah yang ramah anak, aman, dan nyaman bagi tumbuh kembang generasi Qur’ani.

Berdiri dari Inisiatif Warga

MTQ Darussajidin lahir dari inisiatif warga Gedong, Karanganyar. Warga merasa perlu adanya tempat untuk mencetak generasi Qur’ani sekaligus memberi lingkungan yang baik untuk anak-anak mereka. Pembangunannya dilakukan dengan penuh semangat kebersamaan, menjadikan pesantren ini lahir dari rahim umat dan untuk umat.

Dibangun dengan Gotong Royong

Bangunan asrama dan masjid di Darussajidin berdiri dari dana swadaya dan tenaga masyarakat. Ada yang menyumbang uang, ada yang menyumbang tenaga, semua berkontribusi. Gotong royong inilah yang menjadi fondasi awal sehingga pesantren ini sejak berdiri sudah membawa nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

Kehidupan di Pesantren

Keseharian santri di Darussajidin berjalan dengan sederhana tapi penuh makna. Semua santri diperlakukan sama, tanpa diskriminasi sedikitpun. Mereka tidak diperlakukan berbeda berdasarkan latar belakang, kemampuan, atau kondisi keluarga. Mereka belajar bersama, salat berjamaah, mengaji, dan saling mendukung dalam kebaikan.

Suara Santri yang Didengar

Di Darussajidin, setiap santri memiliki ruang untuk menyampaikan kritik, saran, bahkan ide-ide mereka. Prinsip partisipasi aktif santri dijaga agar anak merasa dihargai, bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi sebagai bagian penting dari keluarga besar pesantren. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip nasional Pesantren Ramah Anak (PRA) yang menekankan keterbukaan, kepentingan terbaik anak, dan tanpa kekerasan.

Ramah Anak

Lingkungan Darussajidin dibangun bukan hanya untuk mencetak hafidz Qur’an, tetapi juga untuk menghadirkan ruang belajar yang nyaman, aman, dan penuh kasih. Nilai pengasuhan ramah anak diwujudkan dengan menghindari kekerasan fisik maupun verbal, mencegah praktik perundungan, dan menciptakan pesantren anti bullying. Fasilitas asrama dan masjid terus dijaga agar santri bisa tumbuh dalam suasana bersih, sehat, dan kondusif.

Perspektif Orang Tua

Banyak orang tua merasa tenang menitipkan putra-putranya di Darussajidin. Selain karena lingkungan keagamaan yang kuat, mereka melihat perubahan positif pada karakter, kemandirian, dan kedisiplinan anak. Pandangan ini sejalan dengan wacana publik yang menekankan pentingnya perlindungan anak pesantren serta kebutuhan akan pesantren yang memberi rasa aman dan kebahagiaan bagi para santri.

Kebijakan Nasional dan Semangat Lokal

Program Pesantren Ramah Anak saat ini sedang digalakkan secara nasional melalui Kementerian Agama (KMA No. 91 Tahun 2025 tentang Peta Jalan PRA) dan dukungan berbagai lembaga. MTQ Darussajidin dengan inisiatif lokal dan praktik keseharian yang ramah anak menjadi bagian nyata dari semangat itu. Pesantren ini menunjukkan bahwa regulasi nasional dapat berpadu harmonis dengan semangat swadaya warga.

Harapan ke Depan

Ke depan, MTQ Darussajidin ingin terus berkembang sebagai pusat pendidikan Islam ramah anak yang inklusif, berkualitas, dan memberi manfaat lebih luas. Dukungan masyarakat dan doa orang tua santri sangat berarti agar pesantren ini tetap menjadi rumah Qur’an yang nyaman bagi siapa saja yang ingin belajar.

Penutup

MTQ Darussajidin bukan sekadar tempat menghafal Al-Qur’an. Ia adalah rumah kebersamaan, hasil dari gotong royong warga, dan kini menjadi ruang aman, ramah, serta membahagiakan bagi anak-anak.

Darussajidin bukan hanya pesantren, tapi rumah bagi hati yang ingin dekat dengan Al-Qur’an.